Sekecil Apapun Kebahagiaan mari kita rayakan dengan ngopi!!!!!

Jumat, 10 Juni 2016

Manusia dan jati diri

Manusia terpisah dari dirinya sendiri ketika berhasrat untuk menjadi orang lain, apalagi jika ia berusaha keras untuk meniru. Pelan namun pasti, ia semakin tidak mengenal diri sendiri dan pada akhirnya kehilangan jatidiri. Pergerakan alam bawah sadar ini tak dapat ditahan lajunya hingga tiba di ujung usia, jika pangkalnya tak dicari dari mana bermula. Jika ditemukan, tak bisa diselesaikan pula jika tak lantas disadari sebagai kesalahan arah hidup. Manusia harus memiliki pegangan, belajar dari kompas dalam wujud apa pun, dan menerima bimbingan.

Pohon tumbuh beserta akarnya. Jika tumbuh, tapi tercerabut akarnya, maka tumbang hanya soal waktu. Semakin kokoh akar, semakin kuat pohon itu menghadapi angin, semakin leluasa cabang dan ranting membawa dedaunan ke arah cahaya matahari. Demikian pula manusia. Hati adalah akar bagi kehidupannya. Jika cinta adalah pohonnya, maka kasih sayang merupakan batang dan ranting yang menjelma tangan-tangan bagi daun-daun kebaikan. Tatkala berguguran dan kembali ke tanah, tumbuh daun-daun baru untuk kebaikan berikutnya.

Kehidupan dimulai, dijalani, dan diakhiri. Sebaik-baik manusia adalah yang memulai babak hayatnya dengan mengenal diri sendiri, menjalani pendakian usia dengan mengalami diri sendiri, dan mencapai puncaknya dengan menjadi diri sendiri, atau kembali menjadi diri sendiri jika peran menghendakinya mengalami karakter yang berbeda. Tak ada yang salah dengan meniru orang lain jika masa-masa itu adalah kurun untuk kemudian menemukan kesejatian diri. Muhammad S.A.W. sebagai teladan terbaik pun hanya menjadikan pelaku sunnah seperti Sang Rasul. Hanya seperti. Kita takkan pernah bisa menjadi Muhammad.

Dalam Al Qur'an, Allah mengisyaratkan betapa penting kehadiran Waliyan Mursyidan atau sang pembimbing. Kedudukannya bukan sebagai simbol dari segala kebenaran. Pembimbing berperan besar untuk membantu siapa pun yang dibimbing untuk belajar dari kesalahan-kesalahan dan keburukan-keburukan demi menemukan kebenaran-kebenaran dan kebaikan-kebaikan. Waliyan Mursyidan bagai serangga yang tabah dan setia merawat siklus kehidupan pohon dalam penyerbukan. Lebah, kumbang, tawon, semut, kupu-kupu, dan lalat, berperan penting memastikan serbuk sari jatuh ke kepala putik.

Selain para pembimbing itu, dua kekuatan besar lainnya adalah angin dan air. Semesta mendukung peristiwa-peristiwa kehidupan dari bibit sampai kembali menjadi bibit. Disebabkan oleh penyerbukan, pohon memasuki bab baru pertumbuhannya, yaitu pembuahan. Di dalam buah itulah terkandung biji-biji yang kelak mewujud sebagai benih kehidupan selanjutnya. Mengutip Jalaluddin Rumi, inilah yang disebut sebagai teori ''fihi ma fihi'' atau di dalamnya-lah apa yang di dalamnya. Di dalam bibit terkandung pohon, di dalam pohon terkandung bibit.

Dalam diri manusia, bibit inilah yang disebut sebagai karakter. Usaha seumur hidup untuk tumbuh dan berkembang adalah pembentukan karakter. Pembuahan menjadi fase terakhirnya. Buah dari karakter menunjukkan jatidiri sesuai dengan rasa yang sejati. Semisal, karakter kopi adalah menyerap anasir lain dari karakter di sekitarnya. Jika dalam tahap pembentukan karakter didekatkan dengan pohon duren, maka rusaklah rasa sejati kopi. Jatidiri kopi yang seharusnya khas pun berubah dan bahkan menghilang, begitu pula rasa sejatinya: tak lagi sepahit semestinya.

Semasa hidup, setiap makhluk termasuk manusia menghadapi tiga hal utama yang mempengaruhinya dalam berproses. Ketiganya adalah ruang, waktu, dan keadaan. Tiga-tiganya menyebabkan makhluk berubah. Dan, perubahan merupakan keniscayaan yang tiada makhluk yang kuasa menolaknya. Lahir, hidup, dan mati adalah segitiga rotasi kejadian; sebagaimana adanya sebelum, ketika, dan sesudah. Seperti mempersiapkan kelahiran dan kehidupan, sebaik-baik manusia adalah yang mempersiapkan kematian. Sebaik-baik kematian adalah yang ternyata masih bermanfaat bagi kehidupan. Yang amalnya tidak terputus. Pohon pun, setelah tidak lagi menjadi batang, ia masih bisa menjadi kayu. 

By: guscandra